Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Monday, January 31, 2011

cogito ergo sum

PENULIS :
Saya tertarik membahas istilah filosofi dari Cogito Ergo Sum yang memilki arti sempit "aku berfikir maka aku ada". Dari hasil pencarian data di Kompas.com tentang hal ini dapat ditemukan tafsiran dan penggunaan yang beragam dan luas. Semoga memberi inspirasi tentang arti hidup :D

Bahkan mereka yang tidak secara khusus belajar filsafat sekalipun banyak yang akrab dengan ungkapan cogito, ergo sum, saya berpikir, (maka) saya ada. Kesangsian metodis dari filsuf Perancis Descartes yang dianggap sebagai titik pangkal filsafat zaman modern ini sendiri tentu saja pada perkembangannya juga banyak yang menggugat.
Cogito, si ”saya” dalam Cartesian itu oleh Lacan, misalnya, dianggap tidak mencakup otonomi subyek secara menyeluruh, pusat interior dan ekspresif manusia. Lacan menggunakan pendekatan psikoanalisis dan coba mempertanyakan filsafat tadi dengan proses bawah sadar dan keinginan-keinginan yang diekspresikan dalam bahasa. Dia mempertanyakan dengan merujuk pada Freud yang dikenal dengan bentukan manusia atas ego, superego, dan id.
Kalau ditarik lebih jauh seperti itu terasa tambah membingungkan bagi Anda, sudahlah: bahkan dalam kehidupan Jawa dikenal istilah, ...ilmu kelakone kanti laku (ilmu terjadinya dengan menjalani). Tidak usah banyak berpikir. Umberto Eco juga pernah berucap bahwa pertanyaan tentang ”keberadaan”, ”menjadi”, ”being” sebenarnya problem paling tidak alami. Sesuatu yang banyak orang sebenarnya tidak memedulikannya, iya toh....
http://m.kompas.com/xl/read/data/2010.01.03.0409422

Ya, dengan ide sejarah manusia mengalami pencerahan. Dengan keyakinan ide, Rene Descartes mendeklarasikan diri sebagai pelopor rasionalisme di dunia modern lewat traktatnya yang terkenal, cogito ergo sum. Immanuel Kant juga tegas menyatakan bahwa berani berfikir, maka akan menggapai pencerahan (sapare aude). Semangat berpijak dalam ide yang digelorkan para pemikir telah menandai perubahan radikal dalam gerak pemikiran umat manusia. Sejarah manusia langsung berubah sesuai dengan sejarah radikalisasi ide yang melekat dalam dirinya.
Kevin O’donnell melakukan kajian menarik ihwal ide lewat bukunya yang bertajuk “Sejarah ide-Ide”. O’donnell melihat sejarah ide berawal dari sejarah manusia meninggalkan mitos. Ini bukan berarti manusia bebas dari mitos, tetapi justru mitos telah menuntun manusia memahami hakekat yang terkandung dalam mitos tersebut. Penggalian ontologis atas mitos inilah yang memulai manusia segera menemukan idenya, karena pemikiran atas makna dibalik mitos menjadikan manusia menggali makna radikal di balik fakta yang ada, termasuk menguak makna mitos tersebut. Dalam hal ini Carl Gustav Jung dalam “Memories” menyatakan bahwa bukan kita yang menemukan mitos, melainkan mitos berbicara kepada kita sebagai firman Tuhan. (hal. 18).
http://m.kompas.com/news/read/data/2010.03.17.22183773


Tanpa bermaksud menggali secara mendalam dan kritis ataupun akademis mengapa kondisi lukisan abstrak menjadi demikian halnya, kali ini Philo Art Space menampilkan Pameran Bersama Lukisan Abstrak yang bertema Cogito. Istilah ini berasal dari bahasa Latin yang mengacu pada bangunan pemikiran modern filsuf Prancis, Rene Descartes, “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada) namun tidak bertujuan untuk menjelaskan arti dari rumusan itu secara utuh. Cogito digunakan hanya untuk menunjuk pada pemahaman dasar tentang abstrak itu sendiri yang tak lain adalah dunia bentuk dan dunia bentuk itu tak lain adalah pikiran (cogito).
Lukisan abstrak adalah pikiran? Jawabannya bisa demikian dan bukan hanya demikian. Sejauh lukisan apapun itu dilihat sebagai karya berkonsep maka lukisan itu adalah pikiran atau sebuah pemikiran. Lukisan abstrak dianggap sebagai bentuk-pikiran karena jelas isinya ditunda atau disembunyikan secara visual dan kita hanya diajak untuk melihat bentuk yang dibangun oleh garis-garis dan warna-warna tertentu (simbolik). Secara interpretatif jelas di sini lukisan abstrak sangat menantang karena menjauhkan kita dari cara berpikir referensial atau representatif. Namun dari segi pemaknaan lukisan abstrak tidak berbeda dengan gaya lukisan non-abstrak bahwa kedua-duanya bisa dibaca sebagai wacana karena ada pesan di sana.
http://m.kompas.com/xl/read/data/2009.06.12.01481599

Kemajuan ilmu pengetahuan hingga kini antara lain masih kental diwarnai oleh ide positivisme logis yang berakar dari pemikiran Descartes dengan ujaran ”sakral”: cogito ergo sum (aku berpikir, maka aku ada). Ide ini mengerucut pada pendapat bahwa sensasi indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Pengetahuan mistis pun ditinggalkan.

Maka, kita pun haus untuk menemukan ”jawaban”. Namun, jawaban itu tereduksi pada permasalahan bisa diverifikasi atau tidak, subyektif atau obyektif, fakta atau nilai, dan sebagainya. Lalu, apakah pada masa depan dimungkinkan sebuah telaah pemikiran baru di mana ada peluang untuk mengembangkan pertanyaan kritis: apakah semua metode ilmiah yang berkembang sejauh ini sudah memadai untuk menggali kebenaran?

Sebagai ilustrasi, Bumi adalah suatu kumpulan misteri yang sedikit demi sedikit kita coba singkap rahasianya. Fenomena perubahan iklim yang sedemikian banyak faktanya pun belum bisa sepenuhnya kita kupas tuntas. Hal serupa, Galaksi Bimasakti tempat Bumi adalah salah satu anggotanya hanyalah bagian amat kecil dari keseluruhan alam semesta (kosmos).
Demikian pula perjalanan ilmu pengetahuan yang seakan tak bertepi. Perjalanan ilmu pengetahuan masih akan sangat panjang. Sementara usia bumi mencapai sekitar 4,5 miliar tahun, usia manusia modern (Homo sapiens) masih jauh lebih muda, belum mencapai 1 juta tahun. Mungkin jawaban akan pertanyaan tentang UFO baru akan ditemukan di suatu tempatpada masa depan. Mungkin juga tidak karena UFO bisa jadi hanya merupakan hasil dari konstruksi pikiran manusia.
http://oase.kompas.com/read/2011/01/26/0701496/UFO.Sebuah.Perjalanan.Panjang.Pikiran

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari." Saya orang yang sering tertegun membaca pernyataan Pramoedya Ananta Toer ini. Ya, kekuatan tulisan-kedahsyatan kata-kata dimana ujaran lama berkata Scipta Manent verba Volant (yang tertulis akan tetap mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin).
Kembali pada kuasa buku, kita Tanya saja dari manakah Eropa menjadi kuasa seperti sekarang? Muasal pencerahan Eropa setelah dark age (era kegelapan) yang melingkupinya, tak juga lagir dari pernyataan Immanuel Kant, “We heiss aufklarung?” tahun 1784 di Berlin.
Atau kegetiran hidup Galileo yang diinkuisisi dan dikafirkan oleh gereja dan Copernikus tak dengan sendirinya mendendangkan paradigma helio sentries yang dating dari langit atau bahkan Rene Descartes tak serta merta mencetuskan postulat cogito ergo sum tanpa musabab. Para penggagas pencerahan itu mesti berterimakasih pada rahib-rahib di biara ordo Santo Benediktus yang penuh dengan labirin perpustakaan.
Hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk menyalin naskah-naskah kuno menjadi buku. Para rahib ini mentranskrip khazanah peradaban Islam, Persia, Yunani, serta belahan dunia lain, lantas menerjemahkan dalambahasa ibunya. Tugas utama mereka mencari naskah dan mentransfer ilmu ke tradisi Eropa. Mereka dengan semangat-semangat yang tak kunjung dirundung putus, mengembara ke Negeri Timur Jauh. Sambil berziarah, mengumpulkan naskah, menyalin dan menetbitkannya. Akhirnya warisan pengetahuan itu terselamatkan dengan rapi. Kelak transkrip naskah-yang telah menjadi buku- itulah yang ditelan oleh filosof dan ilmuwan Eropa masa pencerahan untuk menandai suatu era: Modernitas Eropa! (Scipta Manent! Mengabadikan Pengetahuan Lewat Buku, Balairung, 2001).
Kini dunia telah berubah sejak Guttenberg melatari fondasi khasanah tranliterasi dunia, manusia diajak merembesi huruf kemana-mana kesemua ideologi, ilmu pengetahuan, nasionalisme dan segala turunannya dibahasakan. Dengan buku penemuan dan kemajuan bias dirayakan atau meminjam bahasa Gus Muh sang penulis buku ini “diupacarai” dengan kata lain kebudayaan berkembang, kasus sosial-politik yang membuncah, ideologi dan religiusitas personal dibangun, dikembangkan, dibentuk diatas titisan-titisan huruf yang dikelola dicetak masal. Inilah sebuah usaha untuk mencegah lunturnya ingatan, manusia dulu mengabadikan dengan papyrus, rontal, prasasti, dan kini dengan buku pengetahuan tersimpan, disistematisasikan, diawetkan, dibaca dan akan melahirkan tanggapan…dan inilah kerja wacana, kerja membentuk peradaban apalagi kini di era digital semuanya terlihat lebih mudah dan indah!
http://oase.kompas.com/read/2009/06/12/01195337/mantra.scipta.penggila.buku

Dan beberapa saya kutip dari FORUM KOMPAS,
Dan pada jaman "tagito ergo sum" semakin lengkap dengan
scribo ergo sum
(terjemahan bebas: aku menulis maka aku ada).


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Tim Evakuasi WNI Berangkat Malam Ini

Yth. Bapak/Ibu ,
Penulis telah mengirimkan sebuah link berita dari Kompas.Com :
Judul : Tim Evakuasi WNI Berangkat Malam Ini
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Satuan Tugas Evakuasi Hassan Wirajuda
mengatakan, tim pendahulu untuk evakuasi udara warga negara Indonesia di
Mesir akan berangkat pada Senin (31/1/2011) malam. "Kami bermaksud mengirim
tim advance dan tim ini akan berangkat nanti malam," kata Hassan ketika
ditemui di Kantor Presiden, Jakarta.Hassan menegaskan, pihaknya memberikan
toleransi keberangkatan tim hingga Selasa dini hari sekitar pukul 03. ...
Berita Selengkapnya :
http://www1.kompas.com/read/xml/2011/01/31/21105149/Tim.Evakuasi.WNI.Berangkat.Malam.Ini
Pesan :
Untuk pertama kalinya Presiden SBY selama masa pemerintahannya melakukan
"Tindakan Evakuasi WNI di Luar Negeri" secara massal yaitu lebih dari 6000
jiwa. LUAR BIASA..!! saya dukung ketanggapan anda akan situasi Kairo, Mesir
yang semakin memburuk.
DIharapkan ada upaya Pemerintah RI untuk ikut memadamkan gejolak Revolusi
Mesir, Karena hal ini pernah dialami Indonesia pada tahun 1998 pada era
Reformasi menjatuhkan Rezim Soeharto, Semoga kita bisa membagi pelajaran
sesama bangsa muslim.





Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

KRI Dewa Ruci Diganti Tahun Ini

Yth. Bapak/Ibu ,
Penulis telah mengirimkan sebuah link berita dari Kompas.Com :
Judul : KRI Dewa Ruci Diganti Tahun Ini
SURABAYA, KOMPAS.com — Kapal perang RI yang selama ini digunakan sebagai
kapal layar latih, KRI Dewa Ruci, akhirnya memasuki masa pensiun. Pengadaan
kapal layar latih baru dilakukan 2011 ini.Hal ini disampaikan Panglima TNI
Laksamana Agus Suhartono seusai menjadi inspektur upacara dalam serah terima
jabatan Komandan Jenderal Akademi TNI di Akademi Angkatan Laut, Surabaya,
Jumat (28/1/2011).Letnan Jenderal (Mar) Nono Sampono menyerahkan jabatan
Danjen Akade ...
Berita Selengkapnya :
http://www1.kompas.com/read/xml/2011/01/28/22222643/KRI.Dewa.Ruci.Diganti.Tahun.Ini
Pesan :
Woow..!! 58 Tahun Berlayar yah.. HEBAT..!! Saya bangga dan bersyukur atas
anugrah Tuhan untuk Negeri Bahari yang hebat ini.
Tapi alangkah lebih baiknya lagi jika Kapal pengganti yang baru tidak
dibeli dari Luar Indonesia, tapi bisa dibuat di Indonesia melalui PT.PAL dan
dengan bantuan teknologi BUMN lainnya. Atau bisa juga mengirimkan ahli
perkapalan kita ke luar negeri untuk mempelajari pembuatannya, sehingga
sepulangnya para tenaga ahli tersebut dapat mengimplemetasikan
pembelajarannya.





Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Arti Pangeran Danaiswara Peramusesa

Dalam bahasa sansekerta, Nama Danaiswara memiliki arti “jajahan yang luas” Sedangkan Nama Peramusesa berarti “kaya raya”, Sedangkan sebutan pangeran ialah “pewaris takhta muda” yang mewakili usainya zaman kerajaan dan berdirinya zaman republik. Dengan demikian, Arti luas dari Pangeran Danaiswara Peramusesa adalah Pemerintahan merdeka dan modern yang tetap menjajah negerinya sendiri dengan belenggu kebodohan di tanah air yang sangat luas nan kaya raya atas nama rakyat. Inilah Indonesiaku.


Selamat datang BLOG baruku :D
Semoga bisa menampung luapan emosi dan inspirasi


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)