Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Sunday, November 13, 2011

Media = Bisnis + Politik


Media memang boleh membusungkan dadanya karena telah banyak membantu dalam perjuangan perebutan kemerdekaan. Ia berhasil meluncurkan propaganda anti penjajahan dan mengobarkan semangat untuk hidup merdeka. Merdeka atau mati.

Menularkan kobaran api dalam potongan pidato pemimpi- pemimpin bangsa. Menyadarkan diri akan kondisi bangsa yang sedang menjadi pesakitan. Mencerdaskan bangsa kuli bermental korupsi. Menyatukan nusantara lewat persamaan nasib dan tujuan. Perubahan.

Media telah bermetamorfosis dengan waktu yang panjang. Tahap lahir dibawah kolonialisasi, tahap bangkit dibawah revolusi, tahap terror dibawah rekonstruksi,  tahap kejayaan dibawah reformasi. Lalu apakah akan masuk tahap kekuasaan dibawah restorasi?

Sama halnya dengan teknologi, media masa pun dapat disalah gunakan oleh mereka yang berkepentingan, jangankan kedua hal tersebut, sebilah pisau yang biasa digunakan untuk kebaikan dapat dialih fungsikan untuk kejahatan, tergantung oleh siapa yang memegangnya.

Inilah yang terjadi di media, tugas mulianya sebagai “penggiring pemikiran” rakyat, telah salah pegang. Nasionalisme yang seharusnya menjadi tujuan utama dari pemikiran kebangsaan telah bergeser menjadi pertikaian elit yang saling merebut cinta rakyat dengan cara tidak mendidik, saling menjatuhkan.

Lihatlah setiap rakyat kini, hidup dengan rasa skeptis dan pemikiran apatis, ironis memang. Seolah Pemerintahan yang kini sedang berjuang pagi siang malam selalu dianggap remeh bahkan sebagian tutup mata dan ada yang hanya menyalahkan. Bagaimana tidak? lihatlah pemberitaan nasional oleh stasiun TV swasta nasional, tidak sampai hitungan jari yang menyanjung kebijakan atau keberhasilan pemerintah.

Rasa kebanggaan terhadap pemerintah telah hancur hingga hampir ikut meruntuhkan kecintaan rakyat terhadap negaranya sendiri, Indonesia. Jangan salahkan rakyat bila mereka tetap bodoh, ini alat yang sedang disiapkan pemimpin bodoh untuk berkuasa, rakyat bodoh.

Jawaban negatif selain “kepentingan politik pemilik stasiun TV” tersebut adalah bisnis. Untuk apa? ya apalagi kalau bukan untuk mengumpulkan pundi pundi kekayaan. Caranya? ya rating harus naik, atau setidaknya terjaga diposisi yang membanggakan. Dengan apa? ya perhatian rakyat yang selalu haus informasi. Caranya? ya berita kontroversi dari setiap kebijakan, apa pun itu, selalu dijadikan topik utama dengan menambahkan kata “kontroversi” di depan judul utamanya. Memang kontroversi adalah nafas demokrasi, lalu bayangkan jika yang bernafas adalah pemikiran Rakyat Indonesia yang sudah lebih dari 240 Juta orang. Bagaimana mungkin bisa “paham” 1 permasalahan dengan sama? apalagi harus punya 1 “jawaban” yang sama.

Jika saat ini masa kemerdekaan telah menodai kesucian media, dan jika masa penjajahan berhasil menggenjot semangat persatuan nusantara oleh media dengan sempurna, lalu kenapa takut untuk kembali dijajah?
Jika hal ini dianggap radikal dan membutakan masalah lainnya, sekarang tinggal memilih saja,
Lebih baik menjajah media, atau kecerdasan yang dijajah oleh media?

Jika dibiarkan, “Instansi Pembodohan Masal”  ini hanya akan ber-transformasi menjadi “Instansi Devide Et Impera” resmi versi kemerdekaan. Perpecahan Indonesia hanya tinggal masalah “waktu”, hati-hati.


Di Ibukota Tanah Airku Indonesia

17:40-13112011


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 comments:

Post a Comment

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)