Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Sunday, December 8, 2013

Muhammadiyah di Desember 2013

Setidaknya ada 3 Film bagus dari Dunia Perfilman Indonesia yang keluar di Bulan Desember 2013 ini, Menurut saya ketiganya berhubungan dengan eksistensi Muhammadiyah dewasa ini.



Pertama adalah 99 Cahaya di Langit Eropa yang rilis 05-12-2013 , penulisnya adalah Hanum Salsabiela Rais yang tidak lain adalah Putri mantan Ketua MPR yaitu Amien Rais yang juga tokoh Muhammadiyah dan PAN.



Kedua Soekarno garapan Hanung Bramantyo bakal rilis 11-12-2013 Fatmawati (Ibu Negara RI Pertama) yang dipersunting Bung Karno adalah Tokoh Muhammadiyah di Bengkulu



Ketiga adalah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk rilis 19-12-2013 yang diangkat dari buku karya Tokoh Muhammadiyah yaitu Buya Hamka

Jika film 99 Cahaya di Langit Eropa bercerita tentang Agama Islam yang Modern, film Soekarno bercerita tentang membangun Negara yang Modern dan film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk "mungkin" akan bercerita tentang cinta yang tidak akan pernah modern, hehehe. Ayo! maju terus perfilman tanah airku tercinta.


12 Desember 2013

Tubagus Aryandi Gunawan

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Friday, November 22, 2013

Eksklusivitas Sang Mayoritas


Sebab Musabab
Ditengah eforia kesuksesan desentralisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang bersih, jujur dan dekat dengan rakyat seperti Gubernur Jokowi, ternyata perjalanan reformasi birokrasi Pemerintah Daerah tidak berjalan dengan halus.

Reformasi penempatan pejabat pemerintahan daerah dengan sistem baru yang lebih fresh dengan cara penyaringan yang selektif berdasarkan kapasitas dan kapabilitasnya, bahasa sederhana yang dikemukakan media ialah "Lelang Jabatan". Keputusan program Lelang Jabatan untuk posisi Lurah dan Camat yang menempatkan Susan sebagai Lurah di Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan telah membuat gejolak sosial baru. Susan dikenal memiliki background agama Nasrani, sedangkan masyarakat sekitar menganut agama Islam.

Sara
Jujur saja saya heran bukan kepalang harus menyaksikan Lurah Susan yang sedang terjebak dalam seteriologi eksklusivitas Masyarakat Lenteng Agung dalam isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal ini menunjukkan implikasi spirit idiologi solidaritas primordialisme agama yang masih kuat dipegang teguh oleh radikalis Islam di Lenteng Agung. 


Islam
Setelah rangkaian kasus Front Pembela Islam (FPI), kasus Lurah Susan di Lenteng Agung hanya akan menambah stigmatisasi negatif terhadap ajaran Islam itu sendiri. Apa benar Islam agama pembenci yang penuh dengan kekerasan? Bukan kah Nabi Muhammad selalu mengajarkan kasih sayang hingga pernah menunda perang karena takut ada burung yang mati? Apa benar Islam agama ekstrimis yang anti agama lain? Bukan kah Nabi Muhammad pernah bergaul dengan Nasrani bahkan melakukan perdagangan dengan umat Yahudi? atau jangan-jangan ini ulah mereka yang tidak mengerti apa itu Agama? utamanya Islam. Indonesia sejak berdiri sudah ditentukan sebagai Negara Sekuler, Negara yang memisahkan urusan pemerintahan dengan urusan agama, urusan pemerintahan diselenggarakan jajaran pemerintah sedangkan urusan agam dijalankan rakyat kepada tuhannya, langsung. Paradigma terhadap Indonesia sebagai Negara Sekuler harus diidentifikasi lebih jauh dan jelas, bahwa benar kita mayoritas Islam, tapi Indonesia bukan Negara Agama, apalagi Negara Islam.

Ada banyak darah dan nyawa pejuang Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan lainnya dalam semangat perang memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan, berbagai pemeluk agama berhak hidup tenang dalam konstitusi Republik Indonesia (RI) yang sekuler antara agama dan negara.

Demokrasi
Rakyat adalah pemegang kekuasaan yang sejati dan seutuhnya. Sebagai negara yang sudah beberapa kali mencoba rupa-rupa baju demokrasi, dari mulai Demokrasi Terpimpin ala Soekarno, Demokrasi Pancasila ala Soeharto, hingga Demokrasi era Reformasi ini,  Demokrasi Indonesia harusnya semakin matang oleh pengalamanan yang telah dilalui. Mengutip kata Wakil Gubernur Basuki (Ahok), "Demokrasi Indonesia lebih maju daripada Amerika, di Indonesia rakyatnya bisa dipimpin oleh pemimpin yang agamanya tidak mayoritas, Apa Amerika bisa seperti itu?" dalam hal ini Amerika yang telah lebih dari 400 tahun merdeka saja belum mampu atau bahkan tidak mungkin mau untuk dipimpin Presiden atau Kepala Negara Bagian yang bukan agama mayoritas, bayangkan Amerika dipimpin oleh penganut Islam atau Hindu atau bahkan Budha? kedengaran tidak mungkin.


Pancasila
Apa benar pancasila masih menjadi ideologi yang ideal untuk kita semua? Kita semua tahu pluralisme sejatinya menjiwai sila pertama, dengan kata lain pancasila telah melegitimasi semua dogma agama dengan sama rata. Tentu saja relevansi Pancasila terus diuji untuk menjawab tantangan berbangsa yang rasional atau irasional sekalipun. Jangan sampai Bhineka Tunggal Ika hanya digunakan sebagai justifikasi kemajemukan yang tidak terlihat di depan mata lagi.



23 November 2013

Tubagus Aryandi Gunawan

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Monday, November 11, 2013

Kenapa Jerman?

Ilustrasi Perang Padri (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri)

Masih tidak bisa saya terima jika harus berbaik hati dengan Portugis, bangsa yang pernah begitu menginginkan nusantara berada dibawah kaki mereka, bangsa yang menyebabkan perlawanan Rakyat Minahasa melawan Portugis (1512-1560), bangsa yang menyebabkan dikirimnya armada Demak di bawah pimpinan Fatahillah (1527) untuk merebut Banten, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cirebon, bangsa yang menyulut perlawanan Rakyat Aceh terhadap Portugis (1554-1555) bahkan Sultan Iskandar Muda sempat menyerang Portugis di Malaka (1615 & 1629), bangsa yang membuat Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku (1533), Bangsa yang membuat rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis (1570), namun akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede, selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah (1574) Bangsa itu pun berhasil diusir dan kemudian bermukim di Pulau Timor.

Masih tidak bisa saya terima jika harus berdiplomasi dengan Spanyol, bangsa yang menjadi penyebab pecahnya perang Minaesa Serikat (1694) melawan kerajaan Spanyol dalam suatu peperangan di Tompaso, pasukan spanyol dibantu pasukan Raja Loloda Mokoagouw II berhasil dipukul kalah.

Masih tidak bisa saya terima jika harus menimba beban ilmu pengetahuan di Inggris, bangsa yang jajahannya tersebar merata dan paling luas di muka bumi, bangsa yang pernah memborbardir Kota Surabaya pada 10 November 1945, bangsa yang pernah menembaki Rakyat Surabaya secara membabi buta dalam perang terbesar pertama di dunia setelah Perang Dunia ke-2. Tidak kurang dari 12.000 nyawa Bangsa Indonesia tewas saat itu.

Masih tidak bisa saya memberi alasan untuk bisa belajar di negeri kincir angin, bangsa yang menjajah leluhur bangsa indonesia selama 350 tahun lamanya, bangsa yang membuat pemimpin Kesultanan Banten yaitu Sultan Haji bersengkongkol dengan Belanda dan mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa (1684), bangsa yang membuat Kerajaan Mataram dibawah kejayaan Sultan Agung terpecah-pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta, bangsa yang membuat Rakyat Banjar geram karena Belanda menuntut hak monopoli perdagangan dan melakukan perlawanan, bangsa yang membuat amuk Rakyat Gowa-Tallo sehingga terjadi perang besar di Buton dan Makasar antara Sultan Hassanuddin dengan Cornelis Spellman dibantu Aru Palaka (1667), bangsa yang membuat Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura (1817), bangsa yang mempersuram Perang Padri (1803-1838) di Sumatera Barat antara Kaum Padri (kaum ulama) dengan Kaum Adat (kerajaan Pagaruyung), bangsa yang menyebabkan perang berkepanjangan (1825-1830) dan merupakan perang terbesar melawan Belanda yaitu Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog) dan menewaskan sekitar 200.000 orang warga pribumi,  Bangsa yang menyulut Rakyat Aceh menyerang Belanda dibawah pimpinan heroik Teuku Ibrahim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polim, bangsa yang mengakibatkan Rakyat Bali menggelar Perang Puputan dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai. Dari mulai perang saudara yang diciptakan atas nama devide et empera diseluruh pelosok negeri, hingga pembantaian super sadis oleh tentara komando pasukan khusus Belanda bernama Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Kapten (Raymond Pierre Paul) Westerling itu berlangsung sejak awal Desember 1946 hingga akhir 1947 di Sulawesi Selatan yang menewaskan 40.000 nyawa Bangsa Indonesia, jika darah para korban dikumpulkan mungkin darahnya akan menjadi sebuah danau yang luas.

Masih tidak bisa saya terima jika ada teman yang begitu tergila-gila dengan kehidupan dan kebudayaan Negeri Sakura. Bangsa yang dengan keji memberlakukan kerja paksa kepada nenek moyang, dihabisi tenaganya secara tidak manusiawi, belum lagi jika teringat keberingasan mereka merenggut kehormatan para perempuan untuk dijadikan pemuas nafsu bala tentara mereka. 3,5 tahun yang pahit, sangat pahit.

 Angela Merkel memeriksa Prajurit di Istana Merdeka (Sumber : http://presidenri.go.id)

 Angela Merkel mengunjungi Masjid Istiqlal

Presiden SBY dan Angela Merkel dalam Pertunjukan Seni di Istana Merdeka

Foto-foto diatas adalah saat Kanselir Jerman (German Chancellor) mengunjungi Indonesia pada 10 Juli 2012, kunjungan tersebut menjadi sangat istimewa karena kunjungan tersebut hanya untuk mengunjungi sebuah negera, ya Indonesia. Bandingkan dengan Presiden SBY yang biasanya melakukan kunjungan kerja ke lebih dari satu negara sekaligus dalam setiap lawatannya ke luar negeri.

Sahabat saya pernah melempar pertanyaan kepada saya, "Kenapa Jerman? Kenapa lo pilih Jerman untuk ngelanjutin sekolah master? ini bukan menunjukkan nasionalisme lo mulai terkikis kan?" sontak pertanyaan tersebut membuat saya harus menjelaskan panjang kepadanya, Justru memilih Jerman menunjukkan saya masih seorang nasionalis, karena mereka tidak pernah melukai Bangsa Indonesia, apalagi membunuh satu nyawa Bangsa Indonesia. Dalam sejarah, Jerman dikenal tidak pernah menjajah satupun negara di Asia Tenggara, padahal mereka punya pantai untuk mengirimkan kapal untuk ekspedisi. Asia Tenggara bisa dianalogikan sebagai Kue Lezat bagi Orang Eropa, lalu mereka membagi-bagi potongan kue tersebut seenaknya saja, Vietnam untuk Prancis, Filipina untuk Spanyol, Malaysia untuk Inggris, Timor untuk Portugis dan Indonesia yang maha luas untuk Belanda. Berbeda dengan bangsa eropa lainnya, Jerman saat ini lahir menjadi kekuatan ekonomi terbesar di daratan eropa hanya dalam jangka waktu beberapa puluh tahun setelah hancur lebur saat Perang Dunia ke-2, persahabatan Indonesia dan Jerman bertambah kuat oleh sosok BJ Habibie yang pernah belajar banyak ilmu penerbangan disana, dan membawanya untuk kemajuan penerbangan Indonesia.

Mungkin terdengar sangat idealis, tapi inilah saya. Penuh perhitungan sebelum melangkah, saya tidak mau menyakiti para tumpah darah bangsa, memaafkan memang perlu, tapi tolong jangan melupakan satu nyawa pun yang pernah mereka bunuh. Jika terasa sulit mendapatkan luka sebagai satu bangsa, bayangkan saja mereka adalah kakek dan nenek anda, keluarga yang sangat anda cintai, ya, Bangsa yang sangat anda cintai, pernah dibunuh sadis.

Jakarta, 12 November 2013

Oleh Tubagus Aryandi Gunawan


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Monday, November 4, 2013

Inalum, BUMN ke-141


PT Istaka Karya (Persero) yang pailit pada 2011 lalu telah menggenapkan jumlah BUMN dari 141 menjadi 140. Tepatnya pada 22 Maret 2011 lalu, MA mengabulkan kasasi yang dilayangkan PT JAIC Indonesia tersebut dalam perkara permohonan pailit. Keputusan pailit ini bermula dari utang dalam bentuk commercial paper (CP) Istaka kepada PT Japan Investment Indonesia Company (JAIC Indonesia) sekitar 7,645 juta dolar AS. Utang CP atas unjuk tersebut diterbitkan pada Desember 1998, dan jatuh tempo 1 Januari 1999.


Suasana di Inalum (Sumber: www.setkab.go.id

Namun per 1 November 2013 kemarin, daftar BUMN kita bertambah 1 lagi yaitu PT Indonesia Asahan Alumunium atau yang biasa disingkat Inalum. Inalum disebut-sebut sebagai perusahaan peleburan aluminium terbesar di Asia Tenggara ini, karena mempunyai fasilitas lengkap dan siap dikembangkan. Selain itu, pabrik tersebut mampu memberikan nilai tambah yang signifikan, dari alumina seharga US$350 per ton menjadi US$2.500 per ton untuk aluminium ingot.


Berikut ini kultwit yang sempat saya publish melalui twitter @tbarya pada 5 November 2013 dini hari dengan hashtag #INALUM.

Mau apresiasi Pemerintahan @SBYudhoyono bersama Kabinet Indonesia Bersatu II yg sukses membawa #INALUM menjadi milik negara per 1 Nov, utuh.

PT Indonesia Asahan Alumunium atau #INALUM ialah perusahaan patungan RI - Jepang (7 Juli 1975) kepemilikan RI 41,13% Jepang menguasai 58,87%

58,87% itu dikelola Konsorsium Nippon Asahan Alumunium anggotanya pemerintah Jepang 50% Sisanya 12 perusahaan swasta Jepang #INALUM

Menurut perjanjian, kontrak kerja sama pengelolaan #INALUM berakhir pada 31 Oktober 2013 jeng.. jeng..

PT #INALUM sendiri memproduksi aluminium primer dengan kapasitas produksi 250rb ton/th dan akan meningkatkan kapasitas hingga 600rb ton/th

hingga 2030 diharapkan #INALUM bisa berproduksi  hingga 1,415 juta ton per tahun (dengan pangsa pasar dalam negeri 1,9 juta ton per tahun)

Tidak hanya memiliki 3 Pabrik produksi (pabrik carbon plant, reduction plant, dan casting plant.), #INALUM juga memiliki 2 Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

 Lokasi Inalum (Sumber: www.inalum.co.id)

#INALUM punya PLTA Sigura-gura (286 MW) dan PLTA Tangga (317 MW), TOTAL 600MW, bandingkan PLTA Jatiluhur (hanya 175 MW)

Kenapa #INALUM memiliki pembangkit sendiri?
karena proses utama pake listrik  jumlah besar di "Reduction Plant"
2Al2O3 + 3C -> 4Al + 3 CO2


Flow Proses Produksi di Inalum (Sumber: www.inalum.co.id)

pembangkit #INALUM diperlukan utk jaga suplai listrik dan memperoleh listrik murah (Rp 300 per kWh) jika beli dari PLN (Rp 1.000 per kWh)

metode pengalihan #INALUM menggunakan metode transfer saham (share transfer), dgn cara ini pemerintah hanya mengubahnya menjadi BUMN

Dari mana dana transfer saham itu? Komisi XI DPR RI menyetujui Rp 7 T untuk membayar 58,87% saham #INALUM pihak Jepang.

Rp 7 T untuk #INALUM dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari APBN-P 2012  Rp2 T + APBN-P 2013 Rp5 T, beuuh repot yeee~

Jepang memang ngotot minta perpanjangan #INALUM. Baru kali ini kontrak kerja sama jangka panjang dgn perusahaan asing tidak diperpanjang.

Coba perpanjangan Freeport trjadi skr (bukan 2001-an), mungkin bs dperjuangin jd punya kita juga :D
skr sabar aja ampe kontrak selesai 2021.

Freeport sih pengennya bercokol sampe 2041 sampe tembaga dan emasnya habis (pada 2059), sadis euy. #INALUM selesai. maaf nyampah. selamat malam semua :D

"Setelah ini BUMN membangun pabrik bahan baku aluminium di Mempawah, Kalbar. Dengan demikian, kelak Inalum tidak harus beli bahan baku dari Australia." Ujar Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan


Ditulis 5 November 2013.

Salam! Untuk Indonesia!

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sunday, October 20, 2013

Yang-yang


Yang tidak mau bekerja.
Yang biasanya juga tidak mau berpikir.
Yang biasanya juga mudah mengeluh.
Yang biasanya juga mudah menyerah.
Yang biasanya juga mudah menyalahkan orang lain.

Kata Dahlan Iskan soal PT. Perikanan Nusantara (Prinus)

Sumber :
http://dahlaniskan.wordpress.com/2013/09/30/sashimi-prinus-setelah-lama-mampus/

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Sunday, September 22, 2013

Menghargai Penghargaan


Ialah ia seorang Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan sekaligus, ya! Presiden dari Republik Indonesia. Ialah ia Presiden pertama pilihan langsung rakyatnya dan akan pertama kali menjadi Presiden yang pensiun sesuai masa tugasnya pertama kali di Indonesia pada 2014 nanti (karena semua Presiden Indonesia tidak ada yang genap menyelesaikan masa tugasnya). Selama hampir 9 tahun menjabat sebagai Presiden RI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah mendapatkan setidaknya delapan gelar Doktor Honoris Causa (DR HC). 

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, honoris causa adalah gelar yang diberikan kepada seseorang oleh perguruan tinggi sebagai penghormatan atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam bidang ilmu atau dalam bidang kemasyarakatan. Gelar dari perguruan tinggi itu diberikan atas peran Presiden SBY di berbagai bidang, mulai dari pertanian, ekonomi, hukum, hingga politik seperti yang dapat dibaca dibawah ini;

1. 2005, bidang hukum, Universitas Webster, Inggris
2. 2005, bidang politik, Universitas Thammasat, Thailand
3. 21 September 2006, bidang pembangunan pertanian berkelanjutan, Universitas Andalas, Padang, Indonesia
4. 27 November 2006, bidang pemerintahan dan Media, Universitas Keio, Jepang. 
5. 23 Maret 2013, bidang ekonomi, Universitas Tsinghua, Beijing, China
6. 19 Desember 2012, bidang perdamaian, Universiti Utara Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia
7. 22 April 2013, bidang kepemimpinan dan pelayanan publik, Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University, Singapura
8. 19 September 2013, bidang perdamaian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Indonesia

Belum lagi rencana Pemeberian DR HC serupa dari Yordania dan ITB, Bandung, Indonesia. Disamping itu, ternyata pemimpin kita yang satu ini memang sudah cakap dan cerdas sejak muda, terbukti dengan penghargaan lembaga-lembaga non-akademis lain yang telah memberi penghargaan kepadanya berikut ini;

Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fisik, dan Intelek), 1973
Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
Satya Lencana Seroja, 1976
Honor Graduate IOAC, USA, 1983
Satya Lencana Dwija Sista, 1985
Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
Dosen Terbaik Seskoad, 1989
Satya Lencana Santi Dharma, 1996
Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
Wing Penerbang TNI-AU, 1998
Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
Bintang Dharma, 1999
Bintang Maha Putera Utama, 1999
Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
Bintang Asia (Star of Asia), oleh BusinessWeek, 2005
Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama, oleh Sultan Brunei, 2006
Darjah Utama Seri Mahkota, oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin, 2008
100 tokoh Berpengaruh Dunia 2009 kategori Pemimpin & Revolusioner Majalah TIME. oleh TIME, 2009
Knight Grand Cross in the Order of the Bath, oleh Ratu Elizabeth II, 2012 
World Statesman Award, oleh Appeal of Conscience Foundation, 2013

Namun ternyata SBY bukanlah satu-satunya pemimpin Indonesia yang juga menjadi tokoh dunia, ialah ia yang menjadi proklamator negara Republik Indonesia, ialah ia yang juga menjadi Presiden pertama untuk Indonesia, ya! Ir. Soekarno, ternyata ia mengantongi 26 gelar DR HC, berikut daftarnya;

1. 30 Januari 1951, Ilmu Hukum, Far Eastern University, Manila, Filipina
2. 19 September 1951, Ilmu Hukum, Univ. Gadjah Mada, Indonesia
3. 24 Mei 1956, Ilmu Hukum, Columbia University, Amerika Serikat
4. 27 Mei 1956, Ilmu Hukum, Michigan University, Amerika Serikat
5. 8 Juni 1956, Ilmu Hukum, McGill University, Kanada
6. 23 Juni 1956, Ilmu Teknik, Berlin University, Jerman Barat
7. 11 September 1956, Ilmu Hukum, Lomonasov University, Moskow, USSR
8. 13 September 1956, Ilmu Hukum, Beograd University, Belgrado, Yugoslavia
9. 23 September 1959, Ilmu HUkum, Kariova University, Praha, Cekoslowakia
10. 27 April 1959, Ilmu Hukum, Istanbul University, Turki
11. 30 April 1959, Ilmu Hukum, Warsaw University, Polandia
12. 20 Mei 1959, Ilmu Hukum, Brasil University, Ro de Jeneiro, Brasil
13. 11 April 1960, Ilmu Politik, Sofia University, Sofia, Bulgaria
14. 12 April 1960, Ilmu Politik, Bucharest University, Rumania
15. 17 April 1960, Doctor of Engineering, Budapest University, Polandia
16. 24 April 1960, Ilmu Filsafat, Al Azhar University, Kairo, Mesir
17. 5 Mei 1960, Ilmu Sosial dan Politik, La-Paz university, Bolivia
18. 13 September 1962, Ilmu Teknik, ITB, Indonesia
19. 2 Februari 1963, Ilmu Kemasyarakatan, UI, Indonesia
20. 29 April 1963, Hukum Politik dan HI, Unhas, Indonesia
21. 14 Januari 1964, Ilmu Hukum dan Politik, Royal Khmer University, Phnompenh, Kamboja
22. 2 Agustus 1964, Ilmu Hukum, University of the Philippines, Manila, Filipina
23. 3 November 1964, Ilmu Politik, Pyongyang University, Korea Utara
24. 2 Desember 1964, Ilmu Ushuluddin, IAIN Jakarta, Indonesia
25. 23 Desember 1964, Ilmu Sejarah, Unpad, Indonesia
26. 3 Agustus 1965, Filsafat Ilmu Tauhid, Universitas Muhammadiyah, Jakarta, Indonesia

Saya tidak menutup sebelam mata dalam melihat penghargaan demikian, terlepas dari apa motivasi lembaga-lembaga tersebut menyematkan gelar DR HC kepada pemimpin kita, terlepas dari masih banyaknya pekerjaan rumah yang harus dibenahi, terlepas dari ada atau tidak dampaknya kepada masyarakat Indonesia, menurut saya semua penghargaan itu harus kita hargai kembali, setidaknya ada waktu yang dibuang oleh lembaga tersebut untuk benar-benar mempelajari siapa tokoh yang akan diberikan gelar DR HC tersebut, apalagi datangnya dari lingkungan akademis yang semua keputusannya melalui kaidah-kaidah akademis.

Alangkah bijaksananya kita sebagai rakyat turut bangga terhadap "Putra-putra Bangsa Indonesia" tersebut yang dapat ikut menjadi tokoh-tokoh yang disorot dunia karena andil dan perannya. Saya juga baca masih banyak yang menyela atas berbagai penghargaan tersebut kepada SBY, tapi jangan lupa Ir. Soekarno saat itu juga banyak menerima aksi protes, Semua pemimpin pasti memiliki kelemahan dibalik segala keberhasilannya, mengutip pepatah "Tidak Ada Gading yang Tak Retak". Saya hanya bisa berharap kita dapat belajar banyak kebaikan dari kedua pemimpin tersebut. 

Salam Indonesia..!!

Pustaka :


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Monday, September 16, 2013

2045: Path to Nation’s Golden Age


On Aug. 17 we commemorated and celebrated 68 years of independence. The yearly display of sacred and ceremonious spirit proves that the country’s younger generation can cultivate a deep sense of nationalism and give it renewed meaning for the future.

Indonesia’s journey since independence has encountered hardship at times but also reached important milestones. The generation of 1945 fought for and won our independence. The generation of 1966 continued with the objective of maintaining macroeconomic stability and focused on the development of critical infrastructure in every corner of our archipelago. And despite suffering from a structural financial crisis, the generation of 1998 demanded reform that would spread to all layers of society and in the end would usher in the era of democracy for Indonesia.

Our healthy democracy has been reinforced by a commitment from all layers of society to ensure that the euphoria of newfound freedoms does not breed excess. Economic development and democratization continue to exhibit a mutually reinforcing relationship. Even when the global financial crisis struck the United States in 2008, Indonesia was able to sustain itself. It is understandable then if the younger generation now is being called a transformative generation, prepared to turn threats and challenges in a highly uncertain 21st century into meaningful opportunities.

Surpassing expectations

Thirty-two years from now, in 2045, we will commemorate the 100th year of independence. At that time we hope to be in the midst of a golden age with yet another generation leading this great nation. This generation will rise on the back of our competitive and competent human capital. This view is in line with President Susilo Bambang Yudhoyono’s vision of the future as detailed in the journal Strategic Review: “Not only can the Generation of 2045 match the strength and spirit of the Generation of 1945, but they will surpass the expectation of their elders.”

Central to taking on this mantle of the golden generation, we must identify the opportunities and challenges confronting our nation. But this is not easy to do.

What Indonesia looks like in 2045 will be determined by the efforts of people from all layers of society. Most importantly, our transformation will require mental and physical endurance and unwavering commitment. This transformation will be a marathon, not a sprint. And to turn challenges into opportunities, we must embrace change, particularly in relation to information and communications technology. This will help alleviate the pressures that an estimated 9 billion global population will face: the potential for scarcity, competition and conflict on issues ranging from energy and food to water.

Our current president predicts that in 2045 Indonesia will be a nation that is free, democratic, just, open, interconnected and prosperous. This will be realized if his three targets regarding the state of Indonesia’s economy, democracy and civilizational development are achieved by 2045. Echoing the president’s predictions, I would like to add one point: the state of our military.

Homegrown democracy

The first prediction is that Indonesia in 2045 will become the seventh-largest global economy with a GDP of about $12 trillion. At $37,000 per capita, this is close to 10 times the wealth enjoyed by each person on average in Indonesia today. However, to reach this level of prosperity, what is required is a five-track strategy that builds on the five tracks laid out by President Yudhoyono. His tracks are pro-growth, pro-poor, pro-jobs and pro-environment. The fifth one I propose is pro-technology.

The second prediction is that Indonesia’s democracy will be stable and mature. Democracy, freedom and the euphoria of the ballot is not our nation’s ultimate goal. As emphasized by the president, Indonesia has reached the point of no return with respect to its form of governance. A culture of democracy will be nurtured and accompanied by the rule of law and social justice.

Indonesia is the third-largest democracy in the world, a far cry from its authoritarian past. Still, democracy remains a process to achieve overarching national aims such as creating a nation that is secure, at peace and prosperous.

Underlying all this is a consistent effort to uphold the law and our traditional values as a civilization. In other words, democracy in Indonesia must be homegrown, so that our local cultures and ethics remain the basis of a vibrant and representative democracy.

The third prediction is that Indonesian civilization will be advanced and held in high esteem. Our nation in 2045 is predicted to be peaceful, tolerant and harmonious. Our people will form an open society that respects and upholds pluralism and syncretizes external ideas and influences so that our local cultures become stronger, richer and more beneficial to our nation as a whole. To achieve this, we must foster a spirit of multiculturalism, especially by advancing our national motto of Bhinneka Tunggal Ika , or Unity in Diversity, and strengthen the harmony our society has valued for centuries.

Lastly, given a strong economic foundation, Indonesia will possess a strong military force. This is a prediction to complement three earlier predictions made by the president.

Essential force

From the military perspective, a strong economy must be accompanied strong armed forces. With just 1 percent of GDP allocated to the defense industry, by 2045 the country can have a modern and hi-tech main weapons systems to safeguard its sovereignty and unity. In other words, in 2045 Indonesia will be a strong military power.

To be sure, this does not mean that Indonesia will take an aggressive stand against other countries in the region, but rather that it will be taken seriously in its efforts to guard its sovereignty from any external or internal threat. Professional soldiers on the ground must have high-quality weapons systems so that from Sabang to Merauke, and from Miangas Island to Rote Island, they will be provided cover from hi-tech fighter jets, warships and Unmanned Aerial Vehicles.

This is important not only to safeguard our sovereignty but also to minimize casualties when conflict does arise.

Sufficient defense spending would allow Indonesia to realize a Minimum Essential Force that is absolutely necessary for our military if it is to anticipate and deal with the wide spectrum of threats in our globalized era.

Our military must be ready to be deployed not only for war but also for Military Operations Other Than War. This requires our soldiers to stand shoulder to shoulder with all layers of society in responding to natural disasters and other non-conventional security threats. This must be backed by military diplomacy and defense cooperation with our allies and partners. Indonesia will be feared by its enemies and respected by its friends.

To deliver on these four predictions, three preconditions must be met. First, our human capital must be developed so that it values a culture of excellence that would allow Indonesia’s younger generation to adapt to uncertainties and change. Second, our younger generation must resist complacency in this moment of transformation and turn coming challenges into game-changing opportunities. Third, our younger generation must act in time, embodying the motto: “Think big, do small, do now.”

All this requires exceptional leadership from all layers of society. We will be able to make Indonesia a much better nation by 2045, but preparations should start now.

Agus Harimurti Yudhoyono is a 2000 Military Academy graduate, a UN peacekeeper and a Harvard alumnus.

via http://www.thejakartaglobe.com/opinion/2045-path-to-nations-golden-age/


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Monday, August 19, 2013

Merah Putih di Seluruh Indonesia

Dirgahayu Negeriku yang ke-68 Tahun.











































Sumber :
http://foto.news.viva.co.id
http://kompas.com
http://foto.okezone.com
http://www.antaranews.com/foto
http://www.thejakartapost.com
http://presidenri.go.id






Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)