Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Sunday, March 3, 2013

INTEGRITAS INDONESIA




Sahabat gue sering banget bilang “lo salah jurusan banget sih ya’, harusnya lo masuk politik, bukan jadi anak teknik”. One day tuh kata-kata melayang-layang di kepala gue, bener banget ternyata. Sampe akhirnya gue mikir, if I have another life or reborn gitu, gue gak bakal milih masuk Fakultas Teknik walaupun gue tau di teknik itu seru juga, lo belajar dari yang abstrak-abstrak kayak “Transport Phenomenon” sampe belajar yang namanya “Rancang Pabrik” beeuuhh ngeri abis, dan gue piker kalo gue terlahir kembali gue bakal pilih masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik aka FISIP.

Isi lemari buku gue itu mungkin imbang yah space-nya antara buku berbau politik dan teknik. Tapi yang politik itu jumlah judulnya lebih banyak ketimbang teknik, tau kenapa? Karena buku teknik as always tebel-tebel, seeettt dah. Dua-duanya selalu menarik buat gue pelajari, yang satu tentang how could you make a “product” by a “raw material” dan yang satu lagi tentang how could you make a “prosperity” by a “politic power”, quite nice right? I know almost of you still said, exactly NOT. It’s okay then :D

Sebenernya sekarang gue pengen banget bahas “INTEGRITAS” widiiiwidiii~ bahasanya. Simple sih sebenernya, integritas itu kan mirip-mirip artinya sama kesatuan. Gue pengen banget tulisan gue kali ini lebih lepas, like I wanna make a difference posting from what I’ve done before. Oke mulai aja nih?

Kenapa sih the founding fathers kita saat itu milih konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat itu? Ketimbang menjadi Negara Federasi yang terdiri atas Negara-negara bagian seperti Negara tetangga Malaysia, seperti Negara berteknologi super Jerman atau seperti Negara Adidaya Amerika Serikat yang mengusung konsep Negara federasi. Analisis gue sih bilang Indonesia memang saat itu tidak cocok mengadopsi sistem bernegara seperti itu, belum lagi kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur untuk membuat Negara-negara bagian. Hal ini pernah dicoba pada 1949 dimana Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) dimana terdapat 15 Negara/ Daerah Bagian + 1 Republik Indonesia yang merupakan hasil rancangan Belanda dalam Konferensi Meja Bundar yang menciptakan Negara-negara boneka untuk memperkecil wilayah Republik Indonesia. Flashback itu penting dimana Negara bagian tidak pernah dicita-citakan pejuang kemerdekaan. Mereka menginginkan Indonesia yang utuh dalam selimut sebuah Negara tunggal.

Setelah mendapat tekanan dari luar yaitu Agresi Militer Belanda hingga 2 kali untuk merontokkan Republik seumur jagung, Indonesia di Era Soekarno dan Soeharto juga dihadapi serangan kelompok separatis yang menginginkan disintegritas atau lepas dari pangkuan NKRI. Tidak sampai disitu, di era reformasi ini kita juga masih di rongrong oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) walaupun telah berdamai sesuai dengan perjanjian Helsinki, Republik Maluku Selatan (RMS) dan yang paling brutal adalah Operasi Papua Merdeka (OPM).

Dari berbagai macam alasan klise karena kesenjangan pembangunan ekonomi di tanah kaya Aceh, Maluku dan Papu, gue sendiri sebagai bagian dari Rakyat Indonesia pengen banget bertanya, Apa kalian kelompok separatis sudah siap untuk merdeka? Lalu apa untungnya? Adakah motor penggerak kalian itu menginginkan jadi Presiden secara kilat setelah kalian merdeka? Lalu kalian jadi menteri dan tinggal hidup enak?

Atau kalian benci pada Orang dan sistem pemerintahan di Republik ini? Tidak hanya kalian mungkin yang mengeluh soal itu. Atau kalian mulai spesisfik merasa tidak sebangsa pada Orang Jawa? Tidakkah kalian lihat Amerika? Negara maju yang tidak melulu orang kulit putih, bahkan Presidennya kini kulit hitam. Kulit putih dan kulit hitam menduduki tanah bangsa Indian, dan mereka hidup damai. Seharusnya tidak ada lagi pengkotak-kotakan suku, kita semua Bangsa Indonesia, kalian warga di Aceh, Maluku dan Papua kalau benar-benar merasa tidak tahan dengan sistem pemerintahan yang dirasa tidak adil, kalian bisa berjuang menjadi Presiden di tanah air ini..!! tunjukan kalian mampu, tidak perlu sampai mau membuat Negara sendiri lagi, jujur saja saya bosan bangsa ini dipimpin dengan warga tanah jawa. Mungkin kita butuh penyegaran cara kepemimpinan dari daerah ujung Indonesia.

Indonesia ini saling membutuhkan, warga di papua membutuhkan timah dari Bangka Belitung tanpa pajak bea cukai jika anda merdeka, warga Bangka Belitung perlu emas yang ada di perut bumi papua, Aceh butuh kapal-kapal buatan PT.PAL di Surabaya, Maluku yang pulaunya berjauhan perlu pesawat buatan PT. DI di Bandung, Sumatera selatan butuh gas dari kepulauan natuna, Kalimantan butuh minyak hasil kilang di Balongan dan Cilcap.

Bayangkan jika Aceh Merdeka, Maluku Selatan merdeka, dan Papua Merdeka?  Negara Aceh tidak punya kampus sekelas Intitut Teknologi Bandung (ITB), Negara Maluku tidak punya Pabrik Baja terbesar se-Asia Tenggara PT. Krakatau Steel di Cilegon, Negara Papua tidak punya daerah kaya budaya seperti di Bali? Tapi dengan Menjadi Indonesia?? Kita punya semuanya.

Jika kita merasa kaya akan sumber daya alam yang melimpah, tapi kenyataannya hidup miskin, pilihan untuk keluar dari Republik Indonesia sungguhlah mendustai perjuangan leluhur kita selama 350 tahun lebih yang mengidam-idamkan dapat hidup sejahtera dalam sebuah Negara.

Kita semua punya peluang yang sama untuk dapat memperjuangkan Negara yang lebih baik untuk Rakyatnya.

Keluar dari pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak lebih dari perbuatan pengecut. Memangnya gampang bikin Negara baru? Indonesia saja jungkir balik bukan main.


01:20-04032013-ARYA


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 comments:

Post a Comment

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)