Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Thursday, April 18, 2013

TEKNOKRASI INDONESIA



Selamat Malam Indonesia :D



Harusnya malam ini saya melanjutkan penelitian saya, tapi apa boleh buat? mendadak isi kepala mau tumpah,  dan tidak tahu harus ditumpahkan kemana lagi kalau tidak di blog ku yang satu ini.

Malam ini saya ingin sekali sharing soal zaman-zaman yang ada di Indonesia. Semua pasti ingat dengan zaman orde lama ketika itu dipimpin oleh Soekarno dalam masa revolusi Indonesia menjadi negara merdeka dan modern selama 21 tahun. Setelah pondasi-pondasi penting ditanam oleh the founding fathers, ekonomi pun mulai ditumbuhkan di zaman orde baru oleh Soeharto selama 32 tahun. Setelah Indonesia melesat dalam perkembangan ekonomi, ternyata eksekutif yang koruptif dan sangat kuat melebihi legistlatif dan yudikatif serta birokrasi yang semakin kolutif memaksa zaman beralih menjadi zaman reformasi yang telah berlangsung selama 14 tahun, merombak habis perundangan yang merampas kedaulatan rakyat. Lalu setelah kita berhasil mereformasi Indonesia, mau apa lagi?


Saat orde lama berlangsung, mungkin tida ada yang tahu Indonesia harus merasakan tumpahnya darah para Jenderal akibat G30S/PKI, cengkraman pertama Soeharto pada Indonesia 1966. Begitu juga saat orde baru, Indonesia yang selalu digoyah oleh peristiwa-peristiwa besar seperti halnya malari, para petrus yang bertebaran berhasil mengikat kencang mereka yang menggoyang orde baru hingga meletus people power pada 1998 menuntut reformasi. Dan kita tidak pernah tau zaman apa lagi yang ada di depan mata kita? atau bahkan anak dan cucu kita nanti?


Sebagai bagian dari rakyat, saya menawarkan konsep "Teknokrasi Indonesia". Ada yang mengartikan secara singkat bahwa teknokrasi ialah pemerintahan yang diisi oleh cendikiawan-cendikiawan atau para teknokrat. Pengertian teknokrat sendiri ialah para ahli atau pakar atau para cendikiawan yang berkiprah di dalam pemerintahan. Teknokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana para ilmuwan, insinyur, ahli di bidang teknologi yang memiliki pengetahuan, keahlian, atau keterampilan, bukan politisi, pengusaha, dan ekonom akan mengendalikan seluruh pembuatan keputusan. Selain itu pengambil keputusan tersebut akan dipilih berdasarkan seberapa besar pengetahuan dan keterampilan mereka di bidangnya.

Sebenarnya kabinet-kabinet pemerintahan Indonesia telah mengakomodir para teknokrat pada posisi strategis. Namun seperti halnya demokrasi yang dijalankan setengah-setengah saat itu, teknokrat ini pun bersanding dengan para politisi dalam sebuah meja kerja. Alhasil keputusan yang didapat selalu sarat kepentingan pribadi dan golongan tertentu. Contoh yang paling aktual terjadi ialah Kabinet Indonesia Bersatu I (periode 2004-2009) dan II (2009-2014) yang menjadi model Kabinet Nasional yang mengakomodir semua kepentingan partai, daerah dan para pakar. Sejauh ini terdapat 34 kursi menteri (termasuk menteri koordinator), belum lagi pejabat setingkat menteri non departemen dan pejabat-pejabat lembaga negara di pemerintah pusat. Para pembantu presiden ini ternyata mewakili kepentingan presiden atas partai koalisi pendukung pemerintah di DPR RI (Seperti Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi, Menteri Perhubungan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pertanian), para putra daerah (Menteri Lingkungan Hidup dan Menteri Dalam Negeri) dan untuk posisi strategis ditempatkan para pakar disana (Seperti posisi Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan dan Menteri Perindustrian). Bagaimana hasilnya selama hampir 10 tahun pemerintahan dengan komposisi menteri seperti ini? hasilnya sangat menggembirakan pada bidang-bidang kementerian yang dikomandani para pakar, seperti halnya keuangan dan perindustrian yang berkembang pesat, indikatornya ialah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang melesat sejak SBY memegang jabatan Presiden hanya bermodal kurang dari 400 Triliun untuk mengurus lebih dari 200 juta penduduk Indonesia, hingga diakhir masa jabatannya menjadi lebih dari 1400 triliun.



Tidak terbayang bagaimana jika jabatan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi, Menteri Perhubungan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pertanian dan seluruh menteri dan ketua lembaga negara lainnya benar-benar diduduki oleh para pakar dibidangnya. Jangan hanya semata-mata untuk mengamankan kepentingan politik, meredam gejolak anggotan dewan di Senayan dengan memberi kursi menteri untuk partainya.

BJ. Habibie, ingat dengan nama tersebut? dialah salah satu teknokrat yang paling berpengaruh besar dalam masa transformasi Indonesia menjadi negara berbasis teknologi, salah satu capaiannya ialah membuat wadah penelitian dan penerapan teknologi yaitu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Pabrik pesawat terbang yaitu Industri Pesawat Terbang Nasional (PT. IPTN) lalu pada masa Presiden Abdurahman Wahid berganti menjadi Dirgantara Indonesia, dan karya fenomenalnya yaitu Pesawat N-250 yang kandas oleh perjanjian bantuan hutang oleh International Monetary Fund (IMF) sebelum kejatuhan Soeharto tahun 1998. Ia juga teknokrat pertama yang berhasil meraih posisi puncak negeri ini pada zaman peralihan menuju reformasi Indonesia. Bangsa yang besar maha luas ini butuh puluhan ribuan Habibie di berbagai bidang untuk menggeser para birokrat di Pemerintahan Pusat hingga Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota, puluhan ribu teknokrat yang tidak punya kepentingan golongan selain kepentingan untuk memajukan tanah air.

Sekali lagi, saat ini Indonesia butuh teknokrasi, bukan restorasi (seperti yang didengungkan partai baru, Nasional Demokrat).



Di Ibukota Tanah Airku,
19 April 2013

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 comments:

Post a Comment

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)