Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Friday, November 22, 2013

Eksklusivitas Sang Mayoritas


Sebab Musabab
Ditengah eforia kesuksesan desentralisasi yang melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang bersih, jujur dan dekat dengan rakyat seperti Gubernur Jokowi, ternyata perjalanan reformasi birokrasi Pemerintah Daerah tidak berjalan dengan halus.

Reformasi penempatan pejabat pemerintahan daerah dengan sistem baru yang lebih fresh dengan cara penyaringan yang selektif berdasarkan kapasitas dan kapabilitasnya, bahasa sederhana yang dikemukakan media ialah "Lelang Jabatan". Keputusan program Lelang Jabatan untuk posisi Lurah dan Camat yang menempatkan Susan sebagai Lurah di Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan telah membuat gejolak sosial baru. Susan dikenal memiliki background agama Nasrani, sedangkan masyarakat sekitar menganut agama Islam.

Sara
Jujur saja saya heran bukan kepalang harus menyaksikan Lurah Susan yang sedang terjebak dalam seteriologi eksklusivitas Masyarakat Lenteng Agung dalam isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Hal ini menunjukkan implikasi spirit idiologi solidaritas primordialisme agama yang masih kuat dipegang teguh oleh radikalis Islam di Lenteng Agung. 


Islam
Setelah rangkaian kasus Front Pembela Islam (FPI), kasus Lurah Susan di Lenteng Agung hanya akan menambah stigmatisasi negatif terhadap ajaran Islam itu sendiri. Apa benar Islam agama pembenci yang penuh dengan kekerasan? Bukan kah Nabi Muhammad selalu mengajarkan kasih sayang hingga pernah menunda perang karena takut ada burung yang mati? Apa benar Islam agama ekstrimis yang anti agama lain? Bukan kah Nabi Muhammad pernah bergaul dengan Nasrani bahkan melakukan perdagangan dengan umat Yahudi? atau jangan-jangan ini ulah mereka yang tidak mengerti apa itu Agama? utamanya Islam. Indonesia sejak berdiri sudah ditentukan sebagai Negara Sekuler, Negara yang memisahkan urusan pemerintahan dengan urusan agama, urusan pemerintahan diselenggarakan jajaran pemerintah sedangkan urusan agam dijalankan rakyat kepada tuhannya, langsung. Paradigma terhadap Indonesia sebagai Negara Sekuler harus diidentifikasi lebih jauh dan jelas, bahwa benar kita mayoritas Islam, tapi Indonesia bukan Negara Agama, apalagi Negara Islam.

Ada banyak darah dan nyawa pejuang Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan lainnya dalam semangat perang memperebutkan dan mempertahankan kemerdekaan, berbagai pemeluk agama berhak hidup tenang dalam konstitusi Republik Indonesia (RI) yang sekuler antara agama dan negara.

Demokrasi
Rakyat adalah pemegang kekuasaan yang sejati dan seutuhnya. Sebagai negara yang sudah beberapa kali mencoba rupa-rupa baju demokrasi, dari mulai Demokrasi Terpimpin ala Soekarno, Demokrasi Pancasila ala Soeharto, hingga Demokrasi era Reformasi ini,  Demokrasi Indonesia harusnya semakin matang oleh pengalamanan yang telah dilalui. Mengutip kata Wakil Gubernur Basuki (Ahok), "Demokrasi Indonesia lebih maju daripada Amerika, di Indonesia rakyatnya bisa dipimpin oleh pemimpin yang agamanya tidak mayoritas, Apa Amerika bisa seperti itu?" dalam hal ini Amerika yang telah lebih dari 400 tahun merdeka saja belum mampu atau bahkan tidak mungkin mau untuk dipimpin Presiden atau Kepala Negara Bagian yang bukan agama mayoritas, bayangkan Amerika dipimpin oleh penganut Islam atau Hindu atau bahkan Budha? kedengaran tidak mungkin.


Pancasila
Apa benar pancasila masih menjadi ideologi yang ideal untuk kita semua? Kita semua tahu pluralisme sejatinya menjiwai sila pertama, dengan kata lain pancasila telah melegitimasi semua dogma agama dengan sama rata. Tentu saja relevansi Pancasila terus diuji untuk menjawab tantangan berbangsa yang rasional atau irasional sekalipun. Jangan sampai Bhineka Tunggal Ika hanya digunakan sebagai justifikasi kemajemukan yang tidak terlihat di depan mata lagi.



23 November 2013

Tubagus Aryandi Gunawan

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 comments:

Post a Comment

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)