Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Monday, November 11, 2013

Kenapa Jerman?

Ilustrasi Perang Padri (Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri)

Masih tidak bisa saya terima jika harus berbaik hati dengan Portugis, bangsa yang pernah begitu menginginkan nusantara berada dibawah kaki mereka, bangsa yang menyebabkan perlawanan Rakyat Minahasa melawan Portugis (1512-1560), bangsa yang menyebabkan dikirimnya armada Demak di bawah pimpinan Fatahillah (1527) untuk merebut Banten, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cirebon, bangsa yang menyulut perlawanan Rakyat Aceh terhadap Portugis (1554-1555) bahkan Sultan Iskandar Muda sempat menyerang Portugis di Malaka (1615 & 1629), bangsa yang membuat Sultan Ternate menyerukan kepada seluruh rakyat Maluku untuk mengusir Portugis di Maluku (1533), Bangsa yang membuat rakyat Ternate yang dipimpin oleh Sultan Hairun melakukan perlawanan terhadap bangsa Portugis (1570), namun akhirnya tewas terbunuh di dalam Benteng Duurstede, selanjutnya dipimpin oleh Sultan Baabullah (1574) Bangsa itu pun berhasil diusir dan kemudian bermukim di Pulau Timor.

Masih tidak bisa saya terima jika harus berdiplomasi dengan Spanyol, bangsa yang menjadi penyebab pecahnya perang Minaesa Serikat (1694) melawan kerajaan Spanyol dalam suatu peperangan di Tompaso, pasukan spanyol dibantu pasukan Raja Loloda Mokoagouw II berhasil dipukul kalah.

Masih tidak bisa saya terima jika harus menimba beban ilmu pengetahuan di Inggris, bangsa yang jajahannya tersebar merata dan paling luas di muka bumi, bangsa yang pernah memborbardir Kota Surabaya pada 10 November 1945, bangsa yang pernah menembaki Rakyat Surabaya secara membabi buta dalam perang terbesar pertama di dunia setelah Perang Dunia ke-2. Tidak kurang dari 12.000 nyawa Bangsa Indonesia tewas saat itu.

Masih tidak bisa saya memberi alasan untuk bisa belajar di negeri kincir angin, bangsa yang menjajah leluhur bangsa indonesia selama 350 tahun lamanya, bangsa yang membuat pemimpin Kesultanan Banten yaitu Sultan Haji bersengkongkol dengan Belanda dan mengalahkan Sultan Ageng Tirtayasa (1684), bangsa yang membuat Kerajaan Mataram dibawah kejayaan Sultan Agung terpecah-pecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta, bangsa yang membuat Rakyat Banjar geram karena Belanda menuntut hak monopoli perdagangan dan melakukan perlawanan, bangsa yang membuat amuk Rakyat Gowa-Tallo sehingga terjadi perang besar di Buton dan Makasar antara Sultan Hassanuddin dengan Cornelis Spellman dibantu Aru Palaka (1667), bangsa yang membuat Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura (1817), bangsa yang mempersuram Perang Padri (1803-1838) di Sumatera Barat antara Kaum Padri (kaum ulama) dengan Kaum Adat (kerajaan Pagaruyung), bangsa yang menyebabkan perang berkepanjangan (1825-1830) dan merupakan perang terbesar melawan Belanda yaitu Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog) dan menewaskan sekitar 200.000 orang warga pribumi,  Bangsa yang menyulut Rakyat Aceh menyerang Belanda dibawah pimpinan heroik Teuku Ibrahim, Teuku Cik Ditiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan Panglima Polim, bangsa yang mengakibatkan Rakyat Bali menggelar Perang Puputan dibawah pimpinan I Gusti Ngurah Rai. Dari mulai perang saudara yang diciptakan atas nama devide et empera diseluruh pelosok negeri, hingga pembantaian super sadis oleh tentara komando pasukan khusus Belanda bernama Depot Speciale Troepen (DST) pimpinan Kapten (Raymond Pierre Paul) Westerling itu berlangsung sejak awal Desember 1946 hingga akhir 1947 di Sulawesi Selatan yang menewaskan 40.000 nyawa Bangsa Indonesia, jika darah para korban dikumpulkan mungkin darahnya akan menjadi sebuah danau yang luas.

Masih tidak bisa saya terima jika ada teman yang begitu tergila-gila dengan kehidupan dan kebudayaan Negeri Sakura. Bangsa yang dengan keji memberlakukan kerja paksa kepada nenek moyang, dihabisi tenaganya secara tidak manusiawi, belum lagi jika teringat keberingasan mereka merenggut kehormatan para perempuan untuk dijadikan pemuas nafsu bala tentara mereka. 3,5 tahun yang pahit, sangat pahit.

 Angela Merkel memeriksa Prajurit di Istana Merdeka (Sumber : http://presidenri.go.id)

 Angela Merkel mengunjungi Masjid Istiqlal

Presiden SBY dan Angela Merkel dalam Pertunjukan Seni di Istana Merdeka

Foto-foto diatas adalah saat Kanselir Jerman (German Chancellor) mengunjungi Indonesia pada 10 Juli 2012, kunjungan tersebut menjadi sangat istimewa karena kunjungan tersebut hanya untuk mengunjungi sebuah negera, ya Indonesia. Bandingkan dengan Presiden SBY yang biasanya melakukan kunjungan kerja ke lebih dari satu negara sekaligus dalam setiap lawatannya ke luar negeri.

Sahabat saya pernah melempar pertanyaan kepada saya, "Kenapa Jerman? Kenapa lo pilih Jerman untuk ngelanjutin sekolah master? ini bukan menunjukkan nasionalisme lo mulai terkikis kan?" sontak pertanyaan tersebut membuat saya harus menjelaskan panjang kepadanya, Justru memilih Jerman menunjukkan saya masih seorang nasionalis, karena mereka tidak pernah melukai Bangsa Indonesia, apalagi membunuh satu nyawa Bangsa Indonesia. Dalam sejarah, Jerman dikenal tidak pernah menjajah satupun negara di Asia Tenggara, padahal mereka punya pantai untuk mengirimkan kapal untuk ekspedisi. Asia Tenggara bisa dianalogikan sebagai Kue Lezat bagi Orang Eropa, lalu mereka membagi-bagi potongan kue tersebut seenaknya saja, Vietnam untuk Prancis, Filipina untuk Spanyol, Malaysia untuk Inggris, Timor untuk Portugis dan Indonesia yang maha luas untuk Belanda. Berbeda dengan bangsa eropa lainnya, Jerman saat ini lahir menjadi kekuatan ekonomi terbesar di daratan eropa hanya dalam jangka waktu beberapa puluh tahun setelah hancur lebur saat Perang Dunia ke-2, persahabatan Indonesia dan Jerman bertambah kuat oleh sosok BJ Habibie yang pernah belajar banyak ilmu penerbangan disana, dan membawanya untuk kemajuan penerbangan Indonesia.

Mungkin terdengar sangat idealis, tapi inilah saya. Penuh perhitungan sebelum melangkah, saya tidak mau menyakiti para tumpah darah bangsa, memaafkan memang perlu, tapi tolong jangan melupakan satu nyawa pun yang pernah mereka bunuh. Jika terasa sulit mendapatkan luka sebagai satu bangsa, bayangkan saja mereka adalah kakek dan nenek anda, keluarga yang sangat anda cintai, ya, Bangsa yang sangat anda cintai, pernah dibunuh sadis.

Jakarta, 12 November 2013

Oleh Tubagus Aryandi Gunawan


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

2 comments:

mizzkey said...

Kayaknya cuma kamu orang yang bisa menganalisa negara negara sejauh itu..
Tapi akhirnya aku bisa ngerti kenapa harus jerman..
Semoga dilancarkan segala sesuatunya yah..
Proud of you my superman.. :)

Ade Maulana said...

Setuju saya dengan anda. Bahkan itu jadi salah satu alasan kenapa saya fanatik jerman dan berencana ambil master di sana. Sebagai catatan, di bogor ada makam dan tunggu tentara jerman yang gugur membantu pejuang indonesia melawan NICA yang berupaya menjajah Indonesia lagi stelah merdeka.

Post a Comment

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)