Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Friday, January 3, 2014

Kepentingan Nasional VS Kepentingan Kota Besar

Pada Agustus 2013 saya pernah mengulas singkat Program Mobil Murah Ramah Lingkungan atau Low Cost Green Car (LCGC) dengan hashtag #LCGC. Sebagai mana kita ketahui pada pertengahan tahun 2013 Pemerintah Pusat telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 41 Tahun 2013 yang mengatur regulasi LCGC, PP ini setidaknya telah disiapkan selama 3 tahun terakhir. Apa kita harus senang atau justru khawatir?

Membangun Industri Mobil Dalam Negeri
Mengulas kebelakang sedikit tentang Industri Mobil Nasional, penjualan mobil Indonesia pada tahun 2012 sudah melampaui 1 juta unit, dengan kata lain saat ini kita menjadi market terbesar di Asean yang sebelumnya dipegang Thailand dalam hal jumlah penjualan mobil.

Produksi mobil di tanah air sendiri mencapai 1 juta unit dimana 16% di ekspor ke luar negeri, bandingkan dengan produksi Thailand yang sampai 2,5 juta unit dimana 60% di ekspor ke luar negeri dan Malaysia melalui industri Mobil Nasionalnya yaitu proton hanya mampu memproduksi 0,5 juta  unit. Walaupun Indonesia dan Thailand tidak punya merk mobil nasionalnya sendiri, tapi produksi mobil mereka jauh meninggalkan Malaysia, jadi apakah ego untuk memiliki merk mobil nasional masih penting?

Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asean (PDB 40% Asean) tidak mau kalah dalam hal produksi mobil. Sudah tugas Pemerintah Pusat untuk mendorong kepentingan peningkatan produksi mobil dalam negeri, salah satu upaya untuk memancing investasi Industri/ Pabrik mobil baru ialah dengan program LCGC.

Untuk merambah pasar Internasional, awal tahun 2014 ini Agya akan di ekspor ke Filipina sebanyak 400 unit atas nama Toyota karena jaringan pemasarannya jauh lebih siap ketimbang Daihatsu.


Menarik Investasi Pabrik Mobil & Komponen Baru
LCGC ialah mobil murah ramah lingkungan dengan harga jual harus dibawah Rp 100 juta (mobil murah) dan cc-nya harus 1000 cc kebawah (Rendah emisi/ Ramah Lingkungan), investasi pun berduyun-duyun masuk seperti Suzuki sudah dipastikan menanamkan 6,2 T dan Nissan 2,6 T. Seperti yang dikutip dari Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi, "Saat ini, sudah ada komitmen investasi lima produsen mobil dengan total nilai US$ 3 miliar dan 100 industri komponen dengan total investasi US$ 3,5 miliar".

Mobil LCGC harus dibuat di Indonesia dan 80% komponennya harus produksi dalam negeri (bukan impor).Dari sekitar 10.000 komponen yang tertanam pada sebuah mobil, maka sedikitnya 8.000 komponen tersebut haruslah produksi dalam negeri. Hal ini tentu menjadi efek domino untuk mendorong peningkatan kegiatan ekonomi di daerah-daerah serta menciptakan lapangan tenaga kerja baru, terutama di sektor manufakturing. Hal ini juga upaya meningkatkan kemandirian nasional di bidang teknologi otomotif nasional.

Kompetisi Inovasi Teknologi Otomotif
Dalam program LCGC ini, industri otomotif disyaratkan untuk membuat kendaraan yang lebih ramah lingkungan dengan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar per kilometer jarak tempuh.

Sebagai perbandingan, saat ini mobil berbahan bakar minyak rata-rata mengkonsumsi 12 km/liter BBM, sementara mobil murah ramah lingkungan mengkonsumsi 20km/liter BBM. Berarti per unti mobil dapa menghemat banak bakar hingga 66%. Dengan berkurangnya BBM yang dibakar per kilometernya, berarti emisi karbon yang ditinggalakan juga akan lebih sedikit.

Budi Darmadi menjelaskan, potongan PPnBM diberikan sesuai aplikasi teknologi ramah lingkungan yang digunakan. Pada PP tersebut ada program low emission carbon (LEC) dengan berbagai teknologi dan ada program LCGC. Syarat program LCGC memang lebih berat. "Ada program LEC dengan berbagai aplikasi teknologi, misalnya dengan potongan PPnBM sebesar 25%. Penghitungannya adalah pajak yang dikenakan sesuai pasal 2 PP dikali 75% dikali harga jual," imbuh Budi.

Program LCGC mendapatkan insentif untuk mengurangi beban konsumen dengan menghilangkan kewajiban membayar PPnBM, yang tadinya sebesar 10% menjadi 0%. Namun tetap dikenakan PPN sebesar 10% dan Pajak Kendaraan Bermotor di daerah sebesar 10%.

Harga off road LCGC ditetapkan sebesar Rp 95 juta, dtiambah toleransi untuk penambahan teknologi transmisi otomatis 15%, dan toleransi penambahan fitur safety  sebesar  10%.

Menguatkan Identitas Bangsa
Salah satu ketentuan dalam program mobil murah LCGC yang terdapat pada petunjuk tenis (juknis) Peraturan Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi adalah penggunaan merek, model dan logo yang mencerminkan unsur ke-Indonesia-an. Berikut merek dan logo produk mobil LCGC yang telah beredar di Pasar Otomotif Indonesia.

Karimun Wagon R keluaran Suzuki

Brio Satya keluaran Honda

Astra Agya keluaran Toyota

Astra Ayla keluaran Daihatsu


Datsun Go keluaran Nissan

Menghadapi Perdagangan Bebas
Dalam era persaingan Free Trade Area (FTA) regional ASEAN dan Asia Timur, Kemenperin melihat industri otomotif Indonesia dituntut untuk selalu berinovasi menciptakan kendaraan yang hemat energi dengan harga yang terjangkau untuk keperluan pasar dalam negeri dan luar negeri. Negara lain dalam regional FTA seperti Thailand, Malaysia, China, Jepang dan Korea telah lebih dulu memproduksi mobil sejenis LCGC. Indonesia dipandang perlu memberlakukan program mobil LCGC ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas kendaraan jenis ini dari dalam negeri sendiri, sehingga peluang terjadinya banjir impor atas kendaraan jenis tersebut dapat diredam. Lebih jauh lagi, pasar bebas ini juga harus bisa dimanfaatkan sebagi peluang ekspor dalam jumlah besar produk otomotif yang dibuat di dalam negeri.

Pertumbuhan Kelas Menengah
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi berkisar 6,4% setiap tahunnya mengakibatkan naiknya pendapatan perkapita. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat dan meningkatnya porsi kelas menengah akan membawa gelombang belanja konsumen dalam bentuk meningkatnya pemilikan rumah, kendaraan, serta meningkatnya kebutuhan jasa dan konsultasi keuangan seperti halanya pendidikan,” tulis survei dengan judul Indonesia’s Rising Middle-Class and Affluent Consumers , Asia’s Next Big Opportunity.

Menurut hasil survei lembaga konsultan terkemuka dunia, Boston Consulting Group (BCG) "Setiap tahun delapan hingga sembilan juta orang Indonesia berhasil menapaki tangga kelas menengah. Saat ini baru sepertiga, atau sekitar 74 juta penduduk yang berada di golongan ini. Namun dalam satu dekade ke depan diperkirakan 141 juta, atau lebih dari setengah penduduk, akan berada pada kategori kelas menengah."


Menurut BCG, dalam 10 tahun ke depan kelas menengah di pulau Jawa saja sudah akan melebihi seluruh penduduk Thailand. Sementara kelas menengah di Sumatera akan melampaui jumlah penduduk Malaysia dan Singapura bila digabungkan.

Ada berbagai faktor yang menurut BCG menyebabkan kelas menengah Indonesia bertumbuh cepat. Diantaranya adalah adanya bonus demografi. Bonus demografi itu  dalam bentuk lebih dari 60 persen penduduk Indonesia saat ini berusia 20-65 tahun, yang merupakan usia produktif. Angka ini dua kali dari yang ada di Vietnam, dan tiga kali dari penduduk Korea Selatan.

Selain itu, berdasarkan catatan Kemenpera, saat ini sebanyak 60 juta pemilik motor mendambakan untuk dapat memiliki mobil dengan harga yang terjangkai serta hemat bahan bakar.

Kemacetan Kota Besar
Sejauh ini pandangan Pemerintah Pusat yang melatari lahirnya program LCGC untuk mengedepankan kepentingan nasional sangat baik, yang kemudian jadi persoalan adalah LCGC dikhawatirkan akan mendorong maraknya kemacetan di kota-kota besar. Dari 414 kabupaten dan 97 kota (Total 511) hanya sedikit Kota Besar di Indonesia yang mengalami kemacetan parah seperti 10 Kota Terbesar di Indonesia yaitu :

1. Jakarta | 9.586.705 jiwa
2. Surabaya | 2.765.487 jiwa
3. Bandung | 2.394.873 jiwa
4. Bekasi | 2.334.871 jiwa
5. Medan | 2.097.610 jiwa
6. Tangerang | 1.798.601 jiwa
7. Depok | 1.738.570 jiwa
8. Semarang | 1.520.481 jiwa
9. Palembang | 1.440.678 jiwa
10. Makassar | 1.331.391 jiwa

Dari sepuluh Kota Terbesar Indonesia dengan total 27.009.267 jiwa, hanya 10,8% dari seluruh rakyat Indonesia pada 2014 yang diperkirakan lebih dari 250 juta jiwa. Dengan demikian ada 89,2% rakyat Indonesia yang tidak akan terganggu kemacetan dan tetap membutuhkan mobil baru.

Memang benar jika Pulau Jawa telah begitu padat, Pulau Jawa adalah pulau terpadat di dunia dimana 70% Rakyat Indonesia bertempat tinggal. Masyarakat di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua yang situasi sebagian besar jalannya masih sangat lowong masih sangat membutuhkan mobil baru, bukankah setiap orang menginginkan memiliki mobil baru? bukankah setiap keluarga di Indonesia mendambakan memiliki rumah milik pribadi yang nyaman beserta sebuah mobil di garasi mereka?

Khusus membahas Jakarta, rata-rata penambahan mobil setiap harinya di Jakarta pada 2013 sebanyak 300 unit. Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Sambodo menjelaskan, "Dari data yang dimiliki, panjang jalan di Jakarta hanya 7.650 km dan luas jalan 40,1 km atau 0,26% dari luas wilayah DKI. Sedangkan pertumbuhan panjang jalan hanya 0,01% per tahun. Hal ini dinilai tidak sebanding dengan tingginya angka perjalanan yang mencapai 22 juta perharinya."

Saya pribadi menilai pembangunan jalan baru semarak apapun itu tidak akan mampu mengimbangi laju penambahan mobil di jalanan Ibukota. Justru sebaliknya, pembangunan jalan baru di kota-kota besar jangan dijadikan prioritas dan menyediakan anggaran yang besar untuk terus membangun transportasi masal yang nyaman dan aman. Kereta bawah tanah (subway/ MRT) dan kereta layang (monorail) harus dapat menjadi tulang punggung utama alat perpindahan manusia di masa depan.

Masih menurut saya, berkaitan dengan mobil LCGC, masyarakat tentu tidak bisa dilarang untuk tidak membeli mobil LCGC di Kota Besar, yang paling mungkin adalah mempersulit masyarakat Kota Besar dengan menerapkan sejumlah regulasi pajak progresif untuk setiap pembelian mobil LCGC melalui Peraturan Daerah (Perda) masing-masing kota, sehingga dapat menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan jika Pemerintah Pusat benar-benar serius ingin bersinergi dengan Pemerintah Kota untuk menangani kemacetan, mereka dapat membuat kebijakan keras dengan melarang dealer menyalurkan mobil LCGC di 10 kota terbesar di Indonesia.

Menyadarkan Pentingnya Kualitas Bahan Bakar
Jika membandingkan produk Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dengan oktan 88 + Pb (timbal) yaitu Premium, dengan produk BBM dengan oktan 92 yaitu Pertamax atau Pertamax Plus dengan oktan 95 dengan bahan additive sangat jauh lebih baik untuk menjaga performa dan kebersihan mesin. Mobil LCGC dan mobil terbaru keluaran 2005 keatas sangat tidak disarankan mengkonsumsi BBM dengan oktan 88, karena mesin-mesin mobil baru tersebut di desain untuk pembakaran BBM dengan oktan 92 keatas, jika menggunakan oktan 88 hanya akan menurunkan performa mesin hingga kerusakan.

Harga keekonomian Premium yang tanpa subsidi Pemerintah Pusat berkisar Rp 10.000, sementara harga jual setelah subsidi ialah Rp 6.500, berarti Pemerintah telah membantu membelikan rakyatnya bahan bakar 35% setiap liternya. Sejatinya Premium bersubsidi tersebut diperuntukkan untuk roda dua atau masyarakat miskin lainnya. Sehingga sangat kurang tepat jika kita sebagai pemilik mobil LCGC (untuk kelas menengah) ikut menikmati jatah masyarakat miskin republik ini, jangan sampai kita ingin terlihat hebat menggunakan mobil baru, namun bahan bakarnya mencuri hak mereka yang kurang mampu. 

Mengembangkan Mobil Listrik
Meski mobil LCGC ini dikategorikan sebagai mobil ramah lingkungan, namun mobil listrik jauh lebih baik untuk dikembangkan karena bebas polusi atau tanpa emisi karbon. Ditengah ketar-ketir krisis energi utamanya yang berasalkan dari minyak bumi, karena banyak analis perminyakan mengatakan bahwa cadangan minyak terbukti nasional kita hanya tinggal 10 tahun lagi. Ada baiknya pemerintah turut memberi regulasi atau setidaknya peta jalan yang jelas tentang program produksi Mobil Listrik dalam negeri. Mari kita ikut mendorong kemampuan anak negeri mengembangkan mobil masa depan ini.


Bengkulu, 4 Januari 2014

Oleh Tubagus Aryandi Gunawan


Sumber:
Detik Finance http://finance.detik.com
Kompas Otomotif http://otomotif.kompas.com
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) http://www.kemenperin.go.id/artikel/6380/Mobil-Hijau-Dapat-Potongan-PPnBM-25-100
Redwing http://redwing-asia.com/e-commerce/e-commerce-in-indonesia-big-bang/
Boston Consulting Group http://www.bcg.com



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 comments:

Post a Comment

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)