Padamu negeri kami berjanji, Padamu negeri kami berbakti, Padamu negeri kami mengabdi, Bagimu negeri jiwa raga kami. (Pencipta Lirik dan Lagu Bagimu Negeri: Kusbini)

Monday, July 14, 2014

Memugar Gerbang Utama Indonesia


Soekarno Hatta International Airport (SHIA) yang merupakan gerbang masuk utama menuju jantung ibukota negara, kini kondisinya sungguh jauh dari nyaman. Apalagi jika dibandingkan dengan Sumatera yang punya Kualanamu International Airport, Kalimantan yang punya Sepinggan International Airport dan Bali yang punya The New Ngurah Rai International Airport yang ketiganya sungguh modern dan nyaman bagi penumpang.

Saat ini proyek senilai Rp 4,7 triliun sedang bergulir di Cengkareng, Proyek renovasi Terminal 1 dan 2, serta mega proyek pembangunan Terminal 3 Ultimate. Untuk membayangkan luasnya Terminal 3 Ultimate ini, saya Mengutip kata-kata Dahlan Iskan, "jumlahkan (dari) luas terminal 1, terminal 2, dan terminal 3 existing (yang sekarang ada), masih akan kalah luas dengan satu terminal 3 yang baru nanti". Tidak terbayang besarnya mahakarya putra-putri bangsa itu saat nanti selesai sepenuhnya pada Juli 2015.




Sekedar Informasi tambahan, saat ini SHIA melayani tidak kurang dari 62,1 juta penumpang setiap tahunnya. Menjadikannya bandara tersibuk ke-8 di dunia (berdasarkan Airport World 2013).

1. Bandara Atlanta-Hartsfield Jackson (94,4 juta penumpang)
2. Bandara Beijing (87,7 juta penumpang)
3. Bandara London Heathrow (72,3 juta penumpang)
4. Bandara Tokyo Haneda (69,0 juta penumpang)
5. Bandara Chicago O'Hare (66,9 juta penumpang)
6. Bandara Los Angeles International (66,6 juta penumpang)
7. Bandara Dubai International (66,4 juta penumpang)
8. Bandara Soekarno-Hatta (62,1 juta penumpang)
9. Bandara Paris Charles de Gaulle (62 juta penumpang)
10. Bandara Dallas/Forth Wort (60,4 juta penumpang)

Atau bandara tersibuk ke-4 di Asia Pasifik setelah Beijing Capital International Airport, Haneda International Airport di Tokyo dan Dubai International Airport.

Selain ketidaknyamanan SHIA karena membludaknya jumlah penumpang setiap tahun, ditambah dengan adanya proyek renovasi terminal, dan proyek pembangunan rel kereta bandara, ternyata tahun ini SHIA masih dinobatkan sebagai bandara terbaik ke-60 di dunia (berdasarkan Best Airport 2014 versi Sky Trax).



Berikut ini buat yang ingin tahu rencana pembangunan Jalur Kereta Api JABODETABEK (diambil dari situs http://dephub.go.id/)





Bengkulu, 15 Juli 2014

Tubagus Aryandi Gunawan

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Monday, July 7, 2014

Sistem Bernegara Terbaru Negaramu



Dari buku "Selalu Ada Pilihan" setebal 824 halaman yang baru selesai saya baca, SBY menuliskan "resume-nya" dalam menjalani pemerintahan selama 9 tahun dengan semua aturan (Undang-undang) baru produk Reformasi, seperti UU yang mengatur Jabatan maksimal 2 periode, UU yang memenggal kewenangan Presiden, mau bikin UU baru kini harus dengan persetujuan DPR RI, mau angkat Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, Hakim Agung aja harus persetujuan DPR RI, mau bikin APBN harus persetujuan DPR RI, sampai-sampai mau menyatakan PERANG ke negara lain dan menyatakan DAMAI juga harus persetujuan DPR RI. Lahirnya lembaga-lembaga pengawas baru seperti Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Komisi Yudisial (KY). SBY bahkan sampai menyebutkan saat ini Indonesia bukan lagi menganut Sistem Pemerintahan PRESIDENSIAL, tapi Sistem Pemerintahan SEMI-PARLEMENTER. Oleh sebab inilah SBY selalu dianggap lamban, karena memang sistemnya sekarang sangat sulit bukan main untuk dapat bertindak sendiri (Seperti era Soekarno dan Soeharto). Jika tetap ada Presiden yang berlagak otoriter dengan mengeluarkan Dekrit untuk membubarkan saja DPR RI, alamat bisa berakhir seperti Gusdur. Jadi menurut saya, ketakutan akan munculnya kembali Zaman Otoritarian (Sebutan SBY dalam bukunya untuk menjelaskan Era Orde Baru) adalah sangat amat sulit.

Dengan uraian panjang diatas, peran DPR RI menjadi sangat sangar dan berkuasa menjegal segala keinginan Presiden RI. Menurut pandangan saya, walau pun Presiden RI adalah pilihan rakyat langsung bukan oleh MPR RI (DPR RI + DPD RI), tetap saja sang Presiden membutuhkan dukungan suara Anggota DPR RI.

Ada logika sederhana yang ingin saya sampaikan pada sistem Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilu Presiden (Pilpres) yang Indonesia jalankan saat ini, boleh setuju ataupun tidak. Logika sederhana tentang bagimana interaksi yang kita pilih di Pileg (DPR RI) kemaren dan Pilpres (Presiden RI) esok,

Kalau saya pilih Partai A dan Partai A ada di kelompok Koalisi No 1 beserta partai B,C, dan D, lalu ternyata saya pilih Presiden yang diusung Koalisi No 2 oleh Partai E,F,G, H,


Hal ini jadi ganjil ketika Presiden yang menang adalah Koalisi No 2, dan Koalisi No 1 otomatis jadi oposisi yang tugas utamanya adalah untuk mengawasi Pemerintah, tapi kenyataannya bisa banyak menjegal program-program pemerintah usulan Presiden RI, tidak setuju pengangkatan Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, Hakim Agung usulan presiden ke DPR, mempersulit lolosnya UU baru usulan Presiden RI ke DPR RI, mempersulit R-APBN usulan Pemerintah RI ke DPR RI yang semuanya kini harus disetujui oleh DPR RI. Hal ini semakin mungkin terjadi jika Koalisi Presiden RI terpilih kecil jumlah anggota di DPR RI (minoritas). 

Kesimpulan yang saya maksud dari analogi sederhana diatas,
"Jika kita pilih Presiden RI yang "bersebrangan koalisinya" dengan partai yang sudah kita pilih, sama saja kita menempatkan Anggota DPR RI yang akan menyulitkan kinerja Presiden RI pilihan kita." Lucu kan.

Sedikit juga saya ingin bercerita tentang perjalanan Demokrasi Indonesia yang sudah on the right track, banyak sekali negara yang iri dengan "mulusnya" transformasi Indonesia. (Terutama timur tengah, dan ASEAN)

Untuk mengingatkan kita semua, bahwa sejak Indonesia merdeka, kita belum pernah punya Presiden RI yang "turun sesuai masa jabatannya", Soekarno berkuasa 22 tahun dijatuhkan 1966, Soeharto berkuasa 32 tahun dijatuhkan 1998, Habibie berkuasa 1,5 tahun (melanjutkan), Gusdur berkuasa 2 tahun dijatuhkan 2001, Megawati berkuasa 3 tahun (melanjutkan) semua seperti  menjadikan Indonesia sebagai mainan.

Baru era 10 tahun pemerintahan SBY kali ini, tatanan jalannya Pemerintahan Demokrasi khas negara maju dijalannkan, ia bukan saja menjadi Presiden RI pertama pilihan langsung Rakyat Indonesia pada 2004, namun juga Presiden RI pertama yang akan turun "sesuai masa jabatannya" pada 2014. Nanti pada tanggal 20 Oktober 2014, akan ada tradisi baru seperti upacara "red carpet" oleh TNI dan Polri menyambut Presiden  RI terpilih di Istana Merdeka. Baru kali ini terjadi "estafet kepemimpinan" yang baik, tidak seperti Soekarno - Soeharto yang bermusuhan, Soeharto - Habibie yang dingin, Megawati - SBY yang super beku, jangan kan untuk ada "Sertijab". Padahal di kementerian/ dinas saja ada "Serah terima jabatan" yang baik antara Pejabat lama dan Pejabat baru. Sekedar untuk berbagi pengalaman, memberi tahu apa tantangan kedepan, apa yang belum selesai, bahkan bisa menjadi ajang untuk memberi masukan dan saran.

Saya bangga banget sama Demokrasi Indonesia, Rakyat Amerika saja belum memilih langsung Presiden mereka.

Pilpres kali ini juga meningkatkan political knowledge & mengembalikan awareness rakyat atas posisi indonesia terkini di segala bidang.

Semoga Demokrasi Indonesia makin maju.


Jakarta, 7 Juli 2014

Oleh Tubagus Aryandi Gunawan

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Masa sih?

Masa dia mau menyelamatkan nyawa 24 orang peneliti Lorentz dari 26 orang (banyak bule) yang disandera OPM tahun 1996, tapi mau membunuh rakyat sendiri (aktivis) pada tahun 1998?

Masa dulu jaman Megawati jadi Capres dan Prabowo Cawapres pada tahun 2009 isu pelanggaran HAM tidak dihembuskan, tapi sekarang dihembuskan bukan main?

Masa mantan aktivis 1998 yang dulu getol meruntuhkan Orde Baru bahkan jadi korban penculikan seperti Desmond Junaidi Mahesa, Aan Rusdianto, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, tapi sekarang menjadi kader dan elit di Partai Gerindra?

Masa salah satu anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) yaitu SBY yang dulu ikut menandatangani Surat Pemberhentian Prabowo pada 1998, saat ini mendukung Prabowo menjadi Presiden selanjutnya?

Udah gak jaman ngomongin Prabowo tersangkut pelanggaran HAM, basi.

Saya pilih yang Internasionalis, yang mau aktif menjaga perdamaian kawasan, yang tau juga Lokasi dan Permasalahan Laut Cina Selatan (di utara Natuna, Kepulauan Riau) yang sedang tegang antara Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei (ASEAN) menghadapi tekanan kapal-kapal perang Cina di Laut Cina Selatan.

Saya pilih yang berkali-kali menekannya pentingnya "Energi Terbarukan" dan "Sustainable Energy" serta menjanjikan Dana Penelitian tambahan hingga Rp 10 Triliun (dari saat ini 0,1% PDB, sebagai perbandingan Singapura 2,6% dari PDB, Jepang 3,4% dari PDB, dan Korea Selatan 3,6% dari PDB).

Belum lagi ilfeel liat rekam jejak Partai Banteng, dalam perjanjian Batu Tulis antara PDIP - Gerindra di 2009, pada 5 tahun mendatang (2014) PDIP berjanji akan mendukung Prabowo. Faktanya PDIP mengangkat seorang Jokowi jadi Capres, padahal baru kurang dari 2 tahun menjabat Gubernur DKI Jakarta, Jokowi mencederai makna sebuah perjanjian antar partai dan amanah jutaan rakyat jakarta yang sudah memilih dia menjadi Gubernur untuk 5 tahun, menunggu 2019 akan lebih bijaksana.

Dibawah ini adalah OPERASI MAPENDUMA oleh JOKOWI TV (METRO TV - red) pada 2012 lalu pas masih objektif.

Jakarta, 6 Juli 2014

Oleh Tubagus Aryandi Gunawan


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Jokowiku. Jokowimu.


Oleh :

Pendukung Gubernur DKI Jakarta sampai 2017 & Presiden RI mulai 2019

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Bangun pemudi pemuda Indonesia, Tangan bajumu singsingkan untuk negara, Masa yang akan datang kewajibanmu lah, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, Menjadi tanggunganmu terhadap nusa. Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas, Tak usah banyak bicara trus kerja keras, Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih, Bertingkah laku halus hai putra negri, Bertingkah laku halus hai putra negri. (Pencipta Lirik dan Lagu Bangun Pemudi Pemuda: A. Simanjuntak)